Thursday, 7 April 2011

Ternyata Kita Kaya ,,,,

Saya kembali mengambil HP di lubang dashboard mobil. Hari itu, saya memang sengaja membawa headset HP, agar kali ini HP bisa jadi teman perjalanan yang tidak membosankan. Duduk di samping pak sopir memang membosankan bila tanpa teman. Tapi teman kali ini adalah teman yang baik. Tidak pernah minta ditraktir, tidak pernah minta mampir. Itulah HP saya. Malam sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk men-copy beberapa file audio. Tapi bukan file musik lhoo….

Dengan headset terpasang di telinga, saya mendengar beberapa rekaman ceramah satu persatu. Tapi, ceramah yang satu ini berbeda. Ada cerita yang sangat berkesan, dari ceramah Syaikh Muhammad Hassan. Suara rekaman ceramah tidak begitu jernih, memaksa saya untuk memberi fokus lebih. Kata Syaikh Muhammad Hassan,

“Saya mengenal seorang kaya di Kairo, dia memiliki uang tunai sebanyak 100 juta dolar, ini baru uang tunainya, belum kekayaan berupa properti.” Saya berkata dalam hati, 'Wah banyak sekali uangnya, kalo dirupiahkan, kira-kira 900 milyar, kurang sedikit lagi 1 trilyun, banyak banget..' sambil mengubah posisi duduk. Maklum, duduk di mobil tidak selalu nyaman, sambil agar lebih fokus mendengarkan.

“Pada suatu hari..” kata Syaikh Muhammad Hassan melanjutkan, "Dia dan istrinya pergi ke Iskandariyah, ditemani sopirnya. Pada perjalanan pulang, tiba-tiba mobilnya terguling..” Kenapa bisa terguling? Wah itu bukan inti cerita. Pokoknya mobil terguling. “Dan dia pun lumpuh.” sopir dan istrinya selamat. “Dia lumpuh, tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, hanya bisa menggerakkan kepala saja. Dia memiliki dua anak, satu perempuan, satunya lagi laki-laki. Yang perempuan sudah menikah dan ikut suaminya. Suaminya memberinya ultimatum, 'Kamu harus memilih salah satu, antara diriku atau ayahmu.' Dia memilih ikut suaminya. Sementara anak yang laki-laki, memilih bekerja di salah satu negara kaya Timur Tengah…” Hmmmm….. kasihan sekali. Bagaimana komentar pembaca? Saya tidak berkomentar.

Syaikh Hassan melanjutkan, “Tinggallah orang itu di kamarnya ditemani sang sopir, yang membantunya melakukan apa saja yang dia mau. Bahkan ketika gatal, dia hanya bisa memanggil sopir untuk menggaruk.” Kata saya dalam hati, kasihan..
“Orang itu berkata, 'Pada suatu malam, saya merasa gatal. Saya ingin memanggil sopir untuk menggaruk. Tapi saya lihat si sopir tertidur lelap. Saya merasa tidak enak untuk membangunkannya. Jika saya harus membayar 100 juta dolar agar saya bisa kembali menggerakkan tangan, saya akan bayar..'”

Wah, seratus juta dolar untuk sekadar menggerakkan badan? Bagi kita mungkin itu gila. Kita bisa menggerakkan badan tanpa harus bayar. Tapi bagi dia, menggerakkan badan lebih mahal daripada 100 juta dolar!!!

Ternyata kita sudah kaya, kita bisa menggerakkan badan tanpa harus membayar 100 juta dolar. Ini sebuah anugerah.

Ternyata kita kaya. Meski di antara kita ada yang belum bekerja. Meski ada yang masih kontrak rumah. Meski ada yang belum menikah. Tapi, ternyata kita kaya. Kita memiliki anugerah yang harganya lebih dari 900 milyar rupiah.

Tapi kadang ini tidak kita sadari. Sering sekali tidak kita syukuri.

Artikel www.PengusahaMuslim.com

Bersedekah..

Just Sharing

Isinya bagus dan memiliki message agar kita bisa beramal atau bersedekah sesuai dengan tuntutan Rasul sehingga tidak melulu memikirkan bisnis secara fisik saja tetapi juga ada unsur spiritualnya yang berperan disitu, mohon maaf jika kurang berkenan.

Pendapat Joe Vitale, penulis Spiritual Marketing. Juga pendapat banyak penulis lain yang dari pengalamannya mendapati bahwa semakin dia rela memberi (bersedekah) semakin banyak apa yang dia sumbangkan itu kembali kepada dirinya dengan berlipat-lipat.

- Kalau dia nyumbang uang, maka (biasanya) akan datang uang.

- Kalau tenaga, maka akan kembali banyak bantuan.

- Kalau ilmu, maka akan kembali lebih banyak ilmu.

Mereka menemukan bahwa "to give in order to get" adalah suatu hukum universal.

Berikut ini cara bersedekah (menyumbang) yang mereka rasakan mampu menggetarkans piritualitas mereka :

1. Bersedekahlah saat merasa ingin bersedekah, jangan sampai merasa terpaksa. Bila saat bersedekah kita justru merasa kesal, maka akan tertanam di bawah sadar bahwa bersedekah itu tidak enak, bahkan mengesalkan. Mungkin seperti kalau kita bayar parkir kepada preman di pinggir jalan. Ada perasaan terpaksa, tak berdaya, bahkan dirampok. Bukan karena besar kecilnya nilai uang, tapi rela tidaknya perasaan saat memberikan sumbangan. Kalau anda sedang suntuk, tunggu sampai hati lebih riang. Memberi dengan berat hati akan memberi asosiasi buruk ke alam bawah sadar.

2. Bersedekahlah kepada sesuatu yang disukai sehingga hati Anda tergetar karenanya. Mungkin suatu ketika Anda ingin menyumbang yatim piatu, di waktu lain mungkin menyumbang perbaikan jembatan, mungkin pelestarian satwa yang hampir punah, mungkin disumbangkan untuk modal usaha bagi seorang pemula.

Intinya adalah Anda sebaiknya menyedekahkan pada hal yang membuat perasaan Anda tergetar. Setiap orang akan berbeda. Seringkali seseorang menyumbang ke tempat ibadah, tapi hatinya tidak sejalan, hanya karena kebiasaan. Menyumbang yang tak bisa dihayati tak akan menggetarkan kalbu.

3. Bersedekahlah dengan sesuatu yang bernilai bagi Anda. Kebanyakan wujudnya adalah uang, namun lebih luas lagi adalah benda yang juga anda suka, pikiran, tenaga, ilmu yang anda suka. Dengan menyumbang sesuatu yang anda sukai, membuat anda juga merasa berharga karena memberikan sesuatu yang berharga.

4. Bersedekahlah dalam kuantitas yang terasa oleh perasaan. Bagaimana rasanya memberi sedekah 25 rupiah? Bagi kebanyakan orang nilai ini sudah tidak lagi terasa. Untuk seseorang dengan gaji 1 juta, maka 50 ribu akan terasa. Bagi yang perpenghasilan 20 juta, mungkin 1 juta baru terasa. Setiap orang memiliki kadar kuantitas berbeda agar hatinya tergetar ketika menyumbang. Nilai 10 persen biasanya menjadi anjuran dalam sedekah (bukan wajib), mungkin karena sejumlah nilai itulah kita akan merasakan `beratnya' melepas kenikmatan.

5. Menyumbang anonim akan memberi dampak lebih kuat. Ini erat kaitannya dengan ketulusan, walaupun tidak anonim juga tak apa-apa. Dengan anonim lebih terjamin bahwa kita hanya mengharap balasan dari Tuhan (ikhlas).

6. Bersedekah tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang anda beri. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat jalan orang yang anda beri. Pengalaman para pelaku kebanyakan menunjukkan bahwa balasan datang dari arah yang lain.

7. Bersedekahlah tanpa mengira bentuk balasan Tuhan atas sedekah itu. Walaupun banyak pengalaman menunjukkan bahwa kalau bersedekah uang akan dibalas dengan uang yang lebih banyak, namun kita tak layak mengharap seperti itu. Siapa tahu sedekah itu dibalas Tuhan dengan kesehatan, keselamatan, rasa tenang, dll, yang nilainya jauh lebih besar dari nilai uang yang disedekahkan.

Demikian berbagai hal yang berkaitan dengan prinsip bersedekah. Prinsip-prinsip ini sangat sesuai dengan petunjuk Rasulullah Muhammad berkaitan dengan sedekah dan keutamaannya. Kalau tak salah, ada hadits yang menyatakan bahwa tak akan menjadi miskinorang yang bersedekah. Dijamin.

Selain itu bersedekah juga menghindarkan diri dari marabahaya. Ada sebuah kisah tentang seorang yang ditunda kematiannya karena bersedekah. Suatu ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Lalu melintaslah seorang yang memanggul kayu bakar. Tiba-tiba Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Orang ini akan meninggal nanti siang."

Sorenya ketika Rasulullah duduk bersama para sahabat, melintaslah orang tersebut. Maka dipanggillah orang tersebut oleh rasul dan ditanya, "Aku diberitahu (malaikat) tadi pagi bahwa kamu akan menemui ajal siang tadi. Tapi kulihat kamu masih segar bugar. Apa yang telah kamu lakukan?" Kemudian orang itu berkisah bahwa tadi pagi dia membawa bekal makan siang. Lalu di tengah jalan bekal itu dia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Selanjutnya, kata orang itu, saat kayu-kayu bakar diletakkan tiba-tiba seekor ular hitam keluar dari dalamnya. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa ular itulah yang sedianya akan mematuk orang tersebut, namundia berpindah takdir karena sedekahnya menghidarkan dia dari bahaya tersebut.

Kisah itu menunjukkan keutamaan sedekah yang bisa menghindarkan diri dari bahaya, sekaligus menujukkan bahwa cara Tuhan membalas sedekah tidak dalam bentuk dan jalan yang kita sangka

Enam pertanyaan dari seorang guru kepada muridnya

Enam pertanyaan dari seorang guru kepada muridnya

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..

Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. ..

Pertama...

"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"

Murid-muridnya ada yang menjawab..." orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ..

Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...

Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. ..

Sebab kematian adalah PASTI adanya....

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...

"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"

Murid-muridnya ada yang menjawab... "negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" ...

Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar...

Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...

Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap kita

TIDAK bisa kembali ke masa lalu...

Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...

"Apa yang paling besar di dunia ini...???"

Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".. . ..

Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...

Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...

Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya....

Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi ...

Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai

nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...

"Apa yang paling berat di dunia ini...???"

Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah"...

"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..

tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"

Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...

"Semua itu benar...", kata Sang Guru...

tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan keenam adalah...

"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"

Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"

"(hampir) Benar...", kata Sang Guru

tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia".....

Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan

melukai perasaan saudaranya sendiri...


___________________________________________________________________

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...

senantiasa belajar dari MASA LALU ...

dan tidak memperturutkan NAFSU...???

Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...

dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH ....

serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???

___________________________________________________________________

Topan, Tornado, Bahorok, dan Sepoi-sepoi...

Seekor monyet sedang bertengger di pucuk pohon kelapa.
Dia tidak menyadari bahwa tiga angin besar sedang
mengintainya, mereka adalah :
- Angin Topan,
- Angin Tornado
- Angin Bahorok.

Tiga angin itu rupanya sedang membicarakannya, siapa yang
bisa paling cepat menjatuhkan sang monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan berkata, bahwa dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado tidak mau kalah, waktu yang dibutuhkan 30 detik.
Angin Bahorok tersenyum meledek, bahwa dia cuma butuh waktu
15 detik

Akhirnya satu persatu dari ketiga angin itu maju. Angin topan
mendapat giliran pertama, dia tiup sekencang-kencangnya,
wuuusss …
Merasa ada angin besar datang, sang monyet langsung
memegang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatnya.
Beberapa menit lewat, ternyata sang monyet tidak jatuh juga.
Angin Topan pun menyerah.

Giliran angin tornado. Wuuusss… wuuusss …
Seperti topan, tornado melakukan hal yamg sama, dia tiup
sekencang-kencangnya namun sang monyet tidak jatuh-jatuh.
Lalu menyerahlah angin tornado .

Terakhir, angin bahorok.Belajar dari ke dua rekannya, bahorok
meniup lebih kencang dan kencang ... Wuuuss … wuuuss …
wuuuss…
Sang monyet malah makin memperkuat pegangannya sehingga dia
tidak jatuh-jatuh. Ketiga angin besar itu akhirnya mengakui bahwa
sang monyet memang tangguh dan daya tahannya rrruuuaaarrr ...
biasa.

Tidak lama, datanglah angin sepoi-sepoi. Dia berkata kepada ketiga
angin tersebut bahwa dia bermaksud ikut ambil bagian untuk
menjatuhkan sang monyet. Namun ketiga angin malah
mentertawakannya ..., para pembesar angin saja, maksudnya angin
yang besar saja tidak bisa mengusik sang monyet, apalagi yang kecil.

Tidak banyak bicara, angin sepoi-sepoi langsung meniup ubun-ubun
sang monyet. Psssss … Enak sekali. dingiiin… segaaar … suejuuuk ...
sang monyetpun merem melek .... Tidak lama kemudian dia tertidur,
pegangannyapun terlepassss ... terjatuhlah sang monyet ... !


Moral cerita :
-------------

Boleh jadi ketika kita diuji dengan kesusahan …, dicoba dengan
penderitaan …, didera dengan malapetaka ... , kita kuat bahkan
lebih kuat dari sebelumnya ...

Namun ketika kita diuji dengan kenikmatan, kesenangan dan
kelimpahan ..., biasanya kita mudah terlena dan terlupa, dan saat
itulah kita mudah jatuh dan menjauh dari Allah ...!

Ketika Malaikat Maut Datang Menjemput ...

Penulis: Ustadz Dr. Muhamamd Arifin bin Baderi, M.A.

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku! Anda masih ingat detik-detik ketika kakek, atau nenek, atau mungkin ayah, ibunda, atau mungkin juga istri atau suami tercinta meregang nyawanya? Pernahkah anda bertanya dan berpikir apakah yang mereka rasakan ketika ruh mereka meninggalkan raganya?

Agar anda dapat menerka apa yang mereka rasakan kala itu, coba anda kembali mengingat raut wajah mereka ketika detik-detik terakhir sebelum meninggal dunia.

Tahukah saudara! Apa yang dialami oleh ayahanda atau kerabat anda saat itu? Tahukah saudara, dengan siapa ia berhadapan? Berikut inilah kejadian yang dialami oleh ayahanda atau ibunda atau kerabat anda kala itu (Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Ibnu Majah),

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِى إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ – قَالَ – فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِى السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِى ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِى ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ – قَالَ – فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ – يَعْنِى بِهَا – عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِى الدُّنْيَا

“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh sekelompok malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut.
Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegaslah keluar dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membukusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya, “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab, “Ini adalah arwah Fulan bin Fulan” (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”

Saudaraku! Walau demikian mudah arwah orang mukmin keluar dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Sekali-kali tidak.

Adakah keraguan pada diri anda bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang mukmin yang paling sempurna keimanannya? Akan tetapi kemulian dan kesempurnaan iman beliau tidak dapat melindungi beliau dari rasa pedihnya sakaratul maut. Oleh karena itu, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda,

(
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ (رواه البخاري

“Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih.” Riwayat Imam Bukhari.

Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Ka’ab Al Ahbaar,

يا كعب حدثنا عن الموت، قال: يا أمير المؤمنين غصن كثير الشوك يدخل في جوف الرجل فتأخذ كل شوكة بعرق يجذبه رجل شديد الجذب، فأخذ ما أخذ، وأبقى ما أبقى.

“Wahai Ka’ab: Ceritakan kepada kita tentang kematian!. Ka’abpun berkata: Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!” Riwayat Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’.

شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلي في القدور. ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم

Syaddaad bin Al Aus berkata, “Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak.”

Bila demikian dahsyatnya rasa sakit yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana dengan diri Anda? Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal Anda? Anda ingin tahu bagaimana rasanya sakarutul maut bila anda tidak segera bertaubat dari kemaksiatan dan beristiqamah dalam ketaatan? Simaklah kelanjutan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah di atas,

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ وفي رواية وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلاَئِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍقَالَفَتُفَرَّقُ فِى جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِى تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِى الدُّنْيَا .رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

“Bila orang kafir, pada riwayat lain: Bila orang jahat hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh sekelompok malaikat dari langit. Mereka berwajahkan hitam kelam, membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang buruk, bergegaslah engkau keluar dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah”. Segera ruh orang jahat itu menyebar keseluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keras, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya.

Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membukusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi sekelompok malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu buruk.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”

Saudaraku! Coba anda ingat kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah anda rasakan ketika tertusuk atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf yang merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan?

Nah bagaimana halnya bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf anda merasakan sakit. Disaat ruh anda berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf anda sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat. Betul-betul menyakitkan.

Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang anda rasakan.

Saudaraku! Siapkah anda menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?
Bila saudara tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran amal dan menghitamkan hati anda? Mengapa kaki anda terasa kaku, tangan serasa terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika ada seruan beribadah kepada Allah?

Saudaraku! Agar hati anda kembali menjadi lunak dan pintu hati anda terbuka lebar-lebar untuk menerima dan mengamalkan kebenaran, maka alangkah baiknya bila anda sering-sering berziarah ke kuburan. Dengan berziarah ke kuburan, diharapkan anda akan senantiasa menyadari, cepat atau lambat anda pasti menjadi salah seorang dari penghuni kuburan.

(
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ (رواه مسلم

“Berziarahlah ke kuburan, karena ziarah ke kuburan itu dapat mengingatkan kalian akan kematian.” Riwayat Muslim.

Saudaraku! Ada satu pertanyaan yang tidak mungkin anda temukan jawabannya sebelum anda mengalaminya sendiri: Termasuk golongan manakah diri anda, apakah termasuk golongan orang-orang mukmin yang dimudahkan ketika menghadapi sakaratul maut ataukah termasuk golongan yang kedua?

Karenanya, marilah kita berjuang, dan berdoa memohon kepada Allah agar diri kita –dengan rahmat dan kemurahan Allah- dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keteguhan dan kemudahan ketika menghadapi Malaikat Maut.
Amiin.

Wednesday, 6 April 2011

Pahala 10 Milyar Saban Hari

Assalamu’alaikum wr.wb

Pernah ga kebayang, Allah begitu pemurah buat kita semua...??? Dan Sangat-sangat Pemurah. Kalimat Sangat-sangat Pemurah itu ga cukup untuk menggambarkan Kemurahan Allah. Lihat saja, hanya baca Surah al Ikhlas 3x saja, kita sudah dicatat sebagai orang yang baca 1/3 al Qur'an. Dan tidak diragukan sesiapa yang baca 3x maka dicatat berpahala sama dengan mengkhatamkan al Qur'an. Rugi buat yang banyak nanya, dan makin rugi bagi yang udah dapat jawabannya, malah ga baca-baca, he he he. Mendingan orang-orang yang sami'na wa atho'na. Hayooooo aja dia baca, ga mikir, ga nanya. Bersabda Rasulullah yang berasal dari Hadits Abi Ayyub: Man qoro-a Qul Huwawloohu ahad faqod qoro-a tsulutsal Qur'an. Sesiapa yang baca Surah al Ikhlas, maka ia sungguh telah membaca 1/3 al Qur'an. Dan Rasulullah pula yang mengatakan bahwa Qul huwawloohu ahad ta'dilu tsulus al Qur'an, Surah al Ikhlas sebanding dengan 1/3 al Qur'an (HR Abu Hurairoh).

Sekarang hitung, jika sehabis shalat fardhu 5x kita baca Qulhu masing-masing 3x. Maka dalam sehari kita dicatat khatam al Qur'an 5x. Dan sebulan? 150x khatam al Qur'an. Dalam setahun? 1800x khatam al Qur'an. Belom lagi kalau bacanya berjamaah, maka pahalanya berlipat-lipat lagi sebanyak banyaknya jamaah yang baca! Wow! Senang sekali santri-santri dan asaatidz yang rajin membacanya dalam tiap kali usai shalat fardhu berjamaah di mushalla/masjid pesantren. Subhaanallaah.

Terus, kalo yang 10 milyar pahala saban hari?

Ya, pembahasan tentang Qulhu itu mirip mukaddimah pembahasan tentang Kemurahan Allah! Ya Allah, Engkaulah Wahai Yang Maha Pemurah, yang memberi kesempatan kepada kami mengejar keburukan-keburukan kami yang tidak akan terkejar bila tiada Kemurahan-Mu.

Saya akan bahas sedikit dari hal yang sederhana, enteng, tapi subhaanallaah pahalanya. Coba baca hadits berikut ini. Ada hadits di Shohiih al Jaami' nmr 6026 dengan sanad yang disebut berkategori "sangat baik": Qoola Rosuuluwlooh: Manistaghfaro lilmu'miniina wal mu'minaati katabawloohu lahuu bikulli mu'minin wa mu'minatin hasanatun. Masya Allah! Itu artinya kurang lebih: Bersabda Rasulullah, sesiapa yang memohonkan ampun buat orang-orang mukmin, maka ia mendapatkan satu kebaikan dari setiap jumlah orang-orang mu'min. Masya Allah kan? Ini kan namanya hasanaat biqodari 'adadil mu'minien; kebaikan-kebaikan dengan bilangan sebanyak jumlah orang mu'min. Cukup bagi kita berdoa dengan mengucap: Awloohummaghfir lil mu'miniena wal mu'minaat; ya Allah, ampunilah orang-orang yang beriman dari golongan laki-lakinya dan golongan perempuannya. Terkadang imam-imam, ustadz-ustadz dan atau kita, masih menambah lagi dengan tambahan kalimat mil ladun aadama ilaa yaumil qiyaamah. Subhaanallaah... dan golongan mu'min dari sejak zaman Adam sampe hari akhirnya nanti. Masya Allah, Masya Allah. Cakep banget. Demikian luas samudera Ilmu dan Kemurahan Allah. Dan yang demikian tidak akan mengurangi Kerajaan dan Kekuasaannya Allah sama sekali. Ga akan.

Terus, 10 milyar itu? Gimana?

Ya begini, bila dalam 5x shalat fardhu kita mendoakan orang-orang mu'min dengan potongan doa tadi, lalu anggap saja orang mu'min di dunia ini sebanyak 2 milyar, maka kebaikan buat kita yang dihitung berdasarkan jumlah orang mu'min sudah akan berjumlah 2 milyar kebaikan setiap mendoakan mereka. Dikali 5 waktu? 10 milyar. Jumlah ini akan bertambah-tambah jika doanya masih terus ditambah dengan doa-doa lain, dan berjamaah pula. Macam: Awloohumajbur ummata sayyidinaa Muhammad, Awloohumarfa' ummata sayyidinaa Muhammad, Awloohumaghfir ummata sayyidinaa Muhammad, Awloohuma baarik ummata sayyidinaa Muhammad, yang akan dihitung setarikan nafas penciptaan manusia sampe orang terakhir nanti yang dicabut. Subhaanallaah.

Oke deh. Saya coba bahas tentang "Ya Allah, Yang Maha Pemurah" ini nanti di website ya, di www.wisatahati.com, baik di KuliahOnline maupun di DhuhaaCoffee. Doain aja deh, biar mulai nyambung lagi KuliahOnline dan DhuhaaCoffee nya tersebut. Kita bahas hal-hal sederhana namun dilalaikan oleh orang: Shalat malam 2 rakaat lebih baik dari dunia dan seisinya. Itu misal tambahannya. Sehingga menunjuk kepada keanehan diri kita yang habis-habisan mencari dunia di siang hari lalu kecapean dan malah ga bisa bangun malam. Aneh. Sebab harga 2 rakaat shalat malam saja udah ga bisa dibandingin sama dunia yang kita cari habis-habisan. Tentu saja, banyak sisi yang harus kita bahas lebih lanjut lagi. Makanya doain ya. Tulisan yang kali ini, jalanin dulu. Banyakin baca Qulhu, di mana sekali baca 3x-3x. Supaya dapat pahala khatam Qur'an. Udah mah kemaren di Ramadhan, ga khatam, he he, masa ga tertarik dengan ShortCut amal dari Rasul ini. Dan jangan lupa pula rajin-rajin doakan sebanyak-banyaknya orang.
Wassalamu'alaikum wr.wb

Salam Yusuf Mansur.

Mari, Merenungi Kematian

Ust. Abu Umar Basyier..




Merenungi hidup, itu biasa. Tanpa siapa pun kita berusaha merenungi hidup, manusia diciptakan dengan fitrah kuat untuk memikirkan hidupnya. Karena itu, manusia dianggap sebagai makhluk atau ciptaan Allah yang selalu kepayahan.
"Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah..." (QS. Al-Balad: 4).
"Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia kikir.." (QS. Al-Ma'aarij: 19-21)
لاَ يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ
"Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya..." (QS. Al-Hijr: 48).
Manusia begitu kepayahan, dan wujud kepayahan itu begitu terlihat nyata dalam kehidupan, hanya semata-mata karena ia memikirkan hidup. Diawali dengan bagaimana ia tetap bertahan hidup. Lalu berkembang, bagaimana ia bisa hidup dengan lebih baik dari sekarang. lalu berlanjut lagi, bagaimana ia bisa hidup enak. Selanjutnya, bagaimana ia bisa hidup enak dan mudah. Lalu bagaimana bisa hidup lebih enak dan lebih mudah lagi. Setelah itu, bagaimana ia bisa tetap bertahan hidup enak dan mudah. Dan seterusnya. Satu obsesi, melahirkan obsesi lain.
Maka kita sering mendengar sebuah pertanyaan klasik, "Apa obsesi dalam hidup ini yang belum Anda capai?"
Lalu, selalu saja kita mendapatkan jawaban yang nyaris sama persis dari yang ditanya, "Saya ingin seperti ini, begini, dan begitu..."
Padahal, yang ditanya kebanyakan justru orang yang sudah tampak seperti memiliki segalanya. Punya popularitas, punya uang, punya banyak teman, punya pekerjaan yahut sebagai mesin uangnya. Tapi, itulah proses memikirkan wujud yang disebut 'hidup'.
Begitu besar obsesi manusia, dan begitu beragam dinamika dari obsesi tersebut, sehingga sedikit saja nyasar ke wilayah yang kurang dikehendaki, seseorang akan merasa kepayahan.
Ia akan begitu menderita karenanya.
Ada orang yang kepayahan karena sulit bertahan hidup. Ada yang kepayahan karena tak bisa hidup enak. Ada yang merasa susah karena tak bisa hidup enak dengan mudah. Ada juga yang merasa begitu kepayahan karena sebagian dari rasa 'enak' dan rasa 'mudah' itu berkurang sedikit saja. Ata tidak berkurang, tapi ada orang dekat yang mencapainya dengan lebih mudah, dan merasakan yang lebih enak. Itulah, sebagian dari yang diisyaratkan oleh Alquran di atas, "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah..." (QS. Al-Balad; 4).
Bagitu payahnya kita memikirkan hidup, padahal hidup dan mati itu sama pastinya. Kita pasti hidup, karena inilah hidup itu. Tapi kitapun pasti akan mati. Sayangnya, kita begitu gigih memikirkan hidup yang pasti ini, namun teledor memikirkan kepastian yang lain, yaitu mati!!
Ya Rabbi! Betapa bodohnya kami. Begitu banyak hal tentang hidup, kita pelajari, kita amati, kita cermati dan kita nikmati sepuas hati. Tapi, berapa banyak hal tentang kematian yang telah kita ketahui? Sedikit saja.
Berapa banyak hal tentang kematian yang kita amati, kita resapi dan kita jadikan panduan menjalani hidup ini? untuk menyongsong datangnya kematian itu suatu hari? Nyaris tak pernah. Betapa mengenaskan.
Ketika kehidupan dunia yang begitu canggih seperti sekarang ini sudah menawarkan begitu banyak kenikmatan hidup bagi kita, saatnya kita berpikir tentang kematian. Saatnya kita menyisakan sebagian waktu kita, untuk merenungi, bagaimana kita akan mati....



Disalin dari buku Mati Tersenyum Esok Pagi, penerbit Shafa Publika
Artikel
www.PengusahaMuslim.com